Senin, 26 Mei 2014

pengelolaan lingkungan hidup di tinjau dari perspektif ekonomi



Lingkungan dan Permasalahannya (dalam Ekonomi Pembangunan)
BAB I
 PENDAHULUAN
 Selama dasawarsa terakhir ini, para ekonom semakin menyadari betapa pentingnya implikasi-implikasi yang ditimbulkan oleh berbagai persoalan lingkungan hidup terhadap keberhasilan upaya-upaya pembangunan ekonomi. Sekarang kita mengetahui bahwa interaksi antara kemiskinan dan degradasi lingkungan itu dapat menjurus ke suatu proses perusakan tanpa henti. Pemanfaatan sumber-sumber daya alam secara berlebihan tanpa memperhatikan kelestariannya tersebut dengan sendirinya meningkatkan tekanan-tekanan terhadap kualitas lingkungan hidup yang pada akhirnya pasti akan mengancam swasembada atau kecukupan pangan segenap penduduk di negara terebut. Kerusakan atau degradasi lingkungan juga dapat menyusutkan laju pembangunan ekonomi. Hal ini dikarenakan kerusakan lingkungan hidup akan menurunkan tingkat produktivitas sumber daya alam serta memunculkan berbagai masalah kesehatan dan gangguan kenyamanan hidup. Dua puluh persen penduduk dunia yang paling miskin adalah kelompok yang pertama dan yang paling banyak menanggung beban kerusakan lingkungan. Kelompok ini memang merupakan kelompok yang rentan dan rawan. Mereka tidak mempunyai failitas-failitas kesehatan yang memadai atau sanitasi dan persediaan air yang buruk. Karena pemecahan masalah terebut dan berbagai bentuk persoalan lingkungan lainnya senantiasa menyaratkan adanya upaya peningkatan kualitas sumber daya dan taraf hidup penduduk yang paling miskin, maka pencapaian suatu pertumbuhan ekonomi secara berkesinambungan yang sekaligu ramah terhadap lingkungan pada dasarnya merupakan suatu definsi yang paling fundamental dari istilah atau konsep “pembangunan ekonomi” itu sendiri. Berikutnya, kita akan memperluas jangkauan pembahasan mengenai lingkungan hidup ini dengan melibatkan persoalan yang lainnya yang tidak kalah penting nya. Yang terakhir, kita akan coba menarik kesimpulan berdasarkan analisis yang sudah kita lakukan mengenai prospek-prospek penciptaan suatu agenda lingkungan hidup internasional dalam rangka mencapai pembangunan yang berkelanjutan bagi semua negara di dunia.
Setidaknya terdapat tujuh permasalahan yang paling mendasar yang berkaitan dengan lingkungan hidup dan pembangunan 1) Konsep pembangunan yang berkelanjutan dan kaitannya dengan masalah lingkungan hidup 2) Kependudukan dan sumber-sumber daya alam 3) Kemiskinan 4) Pertumbuhan ekonomi 5) Pembangunan daerah pedesaan 6) Urbanisasi 7) Perekonomian global Sebelum membahasnya secara mendalam, terlebih dahulu kami berikan gambaran secara singkat permasalahan-permasalahan tersebut.
1) Pembangunan yang Berkelanjutan dan Perhitungan Nilai Lingkungan Hidup Istilah ini sebenarnya mengacu pada pemenuhan kebutuhan generasi sekarang tanpa merugikan kebutuhan generasi mendatang. Hal ini penting bahwa pertumbuhan ekonomi di masa mendatang dan kualitas kehidupan manusia secara keseluruhan ditentukan oleh kualitas lingkungan hidup di masa sekarang.
2) Kependudukan dan umber-umber Daya Alam Lonjakan jumlah penduduk di kawasan termiskin di dunia telah mengakibatkan semakin parahnya degradasi lingkungan hidup atau pengikian umber-umber daya alam yang jumlahnya sudah sangat terbatas, sehingga mengakibatkan penduduk di kawasan tersebut harus menghadapi kesulitan sekedar untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. 3) Kemiskinan dan Lingkungan Hidup Meskipun jelas bahwa kerusakan lingkungan dan tingkat kelahiran yang tinggi berjalan beriringan, akan tetapi bobot pengaruhnya terhadap faktor kemiskinan absolut tidak selalu sama.
4) Pertumbuhan Ekonomi vs Kelestarian Lingkungan Hidup Kenaikan tingkat pendapatan dan tingkat konsumi penduduk dari lapisan kaya ataupun miskin sama sama akan membawa konsekuensi berupa kenaikan neto kerusakan lingkungan hidup.
5) Pembangunan Daerah Pedesaan dan Lingkungan Hidup Peningkatan input-input pokok pertanian dan diperkenalkannya metode pertanian yang berkelanjutan akan dapat menciptakan alternatif-alternatif pola produksi yang lebih baik daripada pola pemanfaatan yang cenderung tidak ramah lingkungan.
 6) Pembangunan Perkotaan dan Lingkungan Hidup Emisi dari kendaraan, rumah tangga, dan industri, buruknya fentilasi rumah tangga dapat memperparah kondisi lingkungan perkotaan yang sudah sangat menyesakkan itu. Merosotnya produktivitas karena pekerja sakit yang terkomtaminasi oleh sumber-sumber air tercemar, rusaknya infrasturktur, baru sebagian kecil dari biaya sosial yang harus ditanggung masyarakat karena buruknya lingkungan daerah perkotaan.
7) Lingkungan Hidup Global Diperlukannya perhatian dan kerjasama Internasional dalam penyelesaian masalah lingkungan hidup ini. Baik dari negara makmur dan negara yang sedang berkembang. Yuca Siahaan
BAB II
PEMBAHASAN
Selama dekade 1980-an tingkat kesuburan tanah perkapita merosot 1,9 persen per tahun. Masalah ini pada gilirannya memperparah kelangkaan lahan subur yang kemudian akan memaksa penduduk miskin di daerah pedesaan untuk mengandalkan hidupnya pada lahan-lahan marjinal yang produktivitas dan kesuburannya sangat terbatas. Sejauh ini diperkirakan bahwa lebih dari 60 persen penduduk termiskin di berbagai negara-negara berkembang harus mempertahankan kelangsungan hidupnya dengan mengandalkan lahan-lahan marjinal yang sulit ditanami. Kecenderungan negatif ini juga semakin diperburuk oleh ketimpangan kepemilikan lahan sehingga jumlah petani yang tidak memiliki lahan garapan sendiri semakin banyak. Itu berarti semakin banyak orang yang mengandalkan hidupnya pada lahan yang ukuran luas dan produktivitasnya semakin terbatas. Keterbatasan lahan juga mendorong mereka untuk merambah ke lahan-lahan yang secara ekologis sangat sensitif. Hutan-hutan yang jumlahnya semakin sedikit segera dibabat dan diolah menjadi lahan garapan dan kebanyakan dari lahan itu mengalami pengikisan kualitas dan kesuburan secara cepat sebagai akibat dari metode-metode pertanian yang sama sekali tidak efisien. Setiap tahunnya, dunia kehilangan sekitar 270.000 kilometer persegi lahan subur. Secara keseluruhan, 1,2 miliar are lahan telah kehilangan kesuburannya. Perununan produktivitas pertanian ini menghilangkan 0,5 -1,5 % GNP dunia setiap tahunnya. Konsekuensi-konsekuensi Kesehatan serta produktivitas yang Utama atas Terjadinya Kerusakan Lingkungan Masalah Lingkungan Polusi air dan kelangkaan air bersih Yuca Siahaan Dampak Terhadap Kesehatan Lebih dari 2 juta orang mati dan miliaran penyakit terjadi setiap tahunnya sebagai dari akibat tercemarnya air; kondisi kesehatan setiap keluarga sangat buruk dan rapuh akibat dari kelangkaan air bersih Dampak Terhadap Produktivitas Kemerosotan hasil dari budidaya perikanan; waktu para penduduk di desa dan kota banya yang terbuang sekedar untuk mencari air; sebagian kegiatan yang produktif terpaksa ditunda karena air bersih untuk kebutuhan sehari-hari tidak
Ø  Polusi udara Limbah padat dan limbah yang berbahaya Degradasi kualitas tanah Pembabatan hutan atau deforestasi Kemerosotan biodiversitas Yuca Siahaan Aneka penyakit akut dan kronis terutama saluran pernafasan dan paru-paru; 300.000-700.000 manusia khususnya anak-anak meninggal secara dini per tahun; 400 juta-700 juta penduduk negara-negara Dunia Ketiga, terutama wanita dan anak-anak megalami gangguan pernafasan karena sistem ventilasi di rumahrumah yang sangat buruk dan sering dipenuhi oleh kepulan asap kotor yang sangat menyesakkan Aneka penyakit akibat banjir dan limpahan sampah; teracuninya air serta sumbersumbernya yang berskala lokal tetapi sangat berbahaya bagi kesehatan Penyusutan kecukupan gizi kalangan penduduk yang paling miskin oleh karena lahan mereka semaki tidak mampu menyediakan bahanbahan pangan secara memadai; kemungkinan menjadi gurun pasir juga semakin besar Banjir yang akan banyak merenggut harta serta jiwa manusia; risiko penyebaran penyakit Sumber obat-obatan potensial yang sangat berharga lenyap tersedia Penghentian aktifitas transportasi dan industri pada masa kritis; dampak hujan asam terhadap hutan dan sumber-sumber air di bawah tanah, yang mengikis kesuburan lahan dan segala sesuatu yang terdapat di atasnya Pencemaran atas sumbersumber air di bawah permukaan tanah Penyusutan GNP antara 0,51,5 persen per tahun; pengikisan sumber air di bawah tanah; menyulitkan kegiatan transportasi sungai; dan memukul investasi hidroelektrik Lenyapnya sumber daya yang sangat berharga, bukan hanya kayu, tetapi juga produkproduk hutan lainnya yang jenis dan nilainya tidak terhitung besarnya Penurunan kemampuan adaptasi ekosistem dan
Ø  sumberdaya adalah dengan mengenyahkan setiap distorsi pasar. Sejumlah model telah dikembangkan untuk menjelaskan proses terjadinya inefisiensi dalam aloksi sumberdaya. 2. Sumber- Sumber Daya Milik Umum Jika sebuah sumberdaya langka dimiliki oleh masyarakat secara keseluruhan sehingga bisa dimanfaatkan oleh siapa saja, maka sebutannya adalah sumberdaya milik umum (common property resource). Dalam hal ini tidak tersedia laba potensial ataupun rente kelangkaan yang bisa dipungut. Namun, perlu dikemukakan bahwa model- model neoklasik tersebut terlalu memusatkan perhatiannya pada masalah efisiensi dan kurang memperhatikan hal- hal lain yang sebenarnya tidak kalah penting, misalnya saja aspek pemerataan atas hasil- hasil yang diperoleh. Distribusi pendapatan bahkan dianggap bukan merupakan suatu hal yang relevan dalam teori tersebut. Akibatnya teori ini sebenarnya telah membutakan mata atas terciptanya distribusu pendapatan yang sangat timpang, dimana hampir semua rente kelangkaan dan manfaa- manfaat ekonomi hanya diterima oleh segelintir orang yang memiliki sumberdaya. 3. Kritik- kritik Terhadap Model Kepemilikan Umum Neoklasik Model kepemilikan umum mengasumsikan bahwa penyerapan tenaga kerja secara penuh telah tercipta dan bahwa setiap tambahan pekerja akan senantiasa meningkatkan total produktivitas sehingga tingkat produktivitas marjinal mereka setidak- tidaknya sama besarnya dengan upah yang ia terima. Namun, jika kita menyimak kenyataan perekonomian di negaranegara masih banyak terdapat pengangguran di daerah perkotaan maupun pedesaan, maka kita harus menolak asumsi tersebut. Jika pekerja baru datang dari sebuah keluarga petani yang produk marjinalnya berada dibawah tingkat upah sedangkan lapangan kerja alternatif tidak tersedia, maka produk marjinalnya memang bisa meningkat, sehingga dengan sendirinya hal tersebut akan menaikkan produk rata-rata tenaga kerja dan tingkat kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Asumsi yang tidak realitis berikutnya dari model ini adalah bahwasanya pemilik tanah cenderung memaksimalkan laba sehingga ia akan selalu berusaha mencapai tingkat yang optimal. Pada kenyataannya, para pemilik lahan yang luas justru seringkali tidak begitu efisien dalam menggarap lahannya karena mereka cenderung menggunakan lahan- lahan tersebut untuk mendapatkan kekuasaan atau prestise. Dengan demikian jelas bahwa pasar hak kepemilikan yang sempurna bukan merupakan syarat yang penting bagi terciptanya penggunaan lahan secara efisien. Hal yang sama juga berlaku terhadap faktor- faktor produksi Yuca Siahaan
Ø  dan perlonjakan permintaan terhadap barang-barang manufaktur. Parah tidaknya, adalah tergantung cara pembuangannya. Maka perlu peranan pemerintah dalam mengawasinya agar pengusaha tidak seenaknya membuang limbah tanpa memerdulikan kesehatan penduduk sekitar. Penanggung utama biaya kerusakan lingkungan hidup justru mereka yang sebenarnya tidak terlibat atas tersebarnya polutan (eksternalitas). Dalam eksternalitas dikenal beberapa istilah seperti “private cost,” “pollution tax,” “social cost.” Sampai batas tertentu, lingkungan memiliki daya tahan atau absorptive capacity yang memungkinkannya untuk menyerap sejumlah polutan secara aman. Yuca Siahaan
Ø  bumi bagi kelangsungan hidup manusia kini terancam.Banyak aspek-aspek ekosistem telah rusak dan regenerasinya kini terbatas.Terjadinya penipisan lapisan ozon (ozone depletion) dan terus berlangsungya pemanasan global (global warming) yang mengisyaratkan bahwa iklim global telah berada dalam bahaya. Perubahan pola penggunaan tanah di banyak negara berkembang itu sendiri lah yang menyebabkan terjadinya efek rumah kaca (greenhouse gases).Diperkirakan proses penggundulan hutan bertanggung jawab atas 25 persen dari total kenaikan emisi CO2 di seluruh dunia.Penggundulan hutan pada dasarnya merupakan pengikisan sumber oksigen terbesar di dunia. Sebagian besar hutan hujan di dunia ini sudah terkikis.Sekitar 60 persennya telah di babat untuk membuka lahan baru oleh para petani kecil.Setiap tahun 4,5 juta hektar gutan hanya untuk ditebang dan dibakar sementara untuk membuka ladang baru.Sembilan puluh persen diantaranya ulahan yang tidak begitu subur,dan hanya dimanfaatkan beberapa musim panen saja.Setelah tidak ditanami lahan-lahan tersebut dibiarkan begitu saja hingga kemudian dipenuhi oleh alanglang dan kemudian disewakan sekedar untuk tempat menggembalakan ternak.Pihak pemerintah sendiri pun,kadang-kadang turut memperburuk masalah dengan menyediakan subsidi.Jika pada akhirnya rumput ilalang pada lahan tersebut habis,maka petani-petani tersebut akan merambah hutan lagi dan membuka lahan baru.Sejak beberapa saat yang lalu pemerintah negara Dunia Ketiga (negara-negara di Asia,Afrika dan Amerika Latin) telah menjalankan program penghijauan yang sering kali ditunjang oleh bantuan finansial dari bank-bank pembangunan internasional.Sebuah kajian yang dilakukan oleh Bank Dunia untuk mengevaluasi program bantuannya sendiri untuk melakukan penghijauan tersebut sangatlah mahal.Rata-rata rumah tangga peladang menghabiskan US$10.000 dan itu pun tidak akan menjamin bahwa perilaku untuk tidak merusak lingkungan berhenti secara permanen. Karena biaya politik dan ekonomi atas upaya pelestarian hutan seringkali tidak nampak jelas atau bahkan ambivalen,maka upaya tersebut kelihataannya bisa dilakukan tanpa memakan banyak biaya.Pada kenyataanya karena peran hutan hujan tropis yang begitu penting,dalam menjalankan perekonomian domestik negara-negara berkembang,biaya pelestarian hutan itu sebenarnya sangat tinggi (apalagi jika diperhitungkan biaya oportunitasnya).Biaya oportunitas yang muncul dari dari upaya pelestarian hutan hujan selain sangat besar nilainya juga bervariasi Yuca Siahaan
BAB IV
SIMPULAN
Degradasi lingkungan hidup yang terjadi semakin parah dan meluas, di wilayah perkotaan, pedesaan dan wilayah hutan. Beberapa indikator, di wilayah kota, semakin kotornya air sungai, semakin meluasnya daerah kumuh (Stum areas), tak terkendalinya penggunaan ruang kota (City Space), tercemarnya air tanah/sumur dan semakin meningkatnya kadar CO2 di udara. Di daerah pedesaan; semakin meluasnya penggunaan tanah negara untuk pertanian (secara ilegal), semakin banyaknya species flora dan fauna yang hilang/punah dan semakin meluasnya tanah miskin (semak belukar dan tanah gundul) serta bencana longsor dan banjir.. Bila kita menggunakan segenap sumber daya alam secara lebih efisien, kondisi lingkungan hidup akan lebih terjaga dan tentu saja merupakan penghematan secara ekonomis. Sebenarnya dalam taraf individual banyak yang bisa kita lakukan tanpa harus mengeluarkan biaya ekstra demi menyelamatkan lingkungan. Namun dalam skala besar dibutuhkan sejumlah investasi pengembangan teknologi antipolusi dan penyempurnaan manajemen sumber daya. Yuca Siahaan
DAFTAR PUSTAKA
 Todaro,Michael.2000.Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga Edisi Ketujuh.Jakarta:Erlangga Yuca Siahaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar