Lingkungan dan Permasalahannya (dalam Ekonomi Pembangunan)
BAB I
PENDAHULUAN
Selama dasawarsa
terakhir ini, para ekonom semakin menyadari betapa pentingnya
implikasi-implikasi yang ditimbulkan oleh berbagai persoalan lingkungan hidup
terhadap keberhasilan upaya-upaya pembangunan ekonomi. Sekarang kita mengetahui
bahwa interaksi antara kemiskinan dan degradasi lingkungan itu dapat menjurus
ke suatu proses perusakan tanpa henti. Pemanfaatan sumber-sumber daya alam
secara berlebihan tanpa memperhatikan kelestariannya tersebut dengan sendirinya
meningkatkan tekanan-tekanan terhadap kualitas lingkungan hidup yang pada
akhirnya pasti akan mengancam swasembada atau kecukupan pangan segenap penduduk
di negara terebut. Kerusakan atau degradasi lingkungan juga dapat menyusutkan
laju pembangunan ekonomi. Hal ini dikarenakan kerusakan lingkungan hidup akan
menurunkan tingkat produktivitas sumber daya alam serta memunculkan berbagai
masalah kesehatan dan gangguan kenyamanan hidup. Dua puluh persen penduduk
dunia yang paling miskin adalah kelompok yang pertama dan yang paling banyak
menanggung beban kerusakan lingkungan. Kelompok ini memang merupakan kelompok
yang rentan dan rawan. Mereka tidak mempunyai failitas-failitas kesehatan yang
memadai atau sanitasi dan persediaan air yang buruk. Karena pemecahan masalah
terebut dan berbagai bentuk persoalan lingkungan lainnya senantiasa menyaratkan
adanya upaya peningkatan kualitas sumber daya dan taraf hidup penduduk yang
paling miskin, maka pencapaian suatu pertumbuhan ekonomi secara
berkesinambungan yang sekaligu ramah terhadap lingkungan pada dasarnya merupakan
suatu definsi yang paling fundamental dari istilah atau konsep “pembangunan
ekonomi” itu sendiri. Berikutnya, kita akan memperluas jangkauan pembahasan
mengenai lingkungan hidup ini dengan melibatkan persoalan yang lainnya yang
tidak kalah penting nya. Yang terakhir, kita akan coba menarik kesimpulan
berdasarkan analisis yang sudah kita lakukan mengenai prospek-prospek
penciptaan suatu agenda lingkungan hidup internasional dalam rangka mencapai
pembangunan yang berkelanjutan bagi semua negara di dunia.
Setidaknya terdapat tujuh permasalahan yang paling mendasar
yang berkaitan dengan lingkungan hidup dan pembangunan 1) Konsep pembangunan
yang berkelanjutan dan kaitannya dengan masalah lingkungan hidup 2)
Kependudukan dan sumber-sumber daya alam 3) Kemiskinan 4) Pertumbuhan ekonomi
5) Pembangunan daerah pedesaan 6) Urbanisasi 7) Perekonomian global Sebelum
membahasnya secara mendalam, terlebih dahulu kami berikan gambaran secara
singkat permasalahan-permasalahan tersebut.
1)
Pembangunan yang Berkelanjutan dan Perhitungan Nilai Lingkungan Hidup Istilah
ini sebenarnya mengacu pada pemenuhan kebutuhan generasi sekarang tanpa
merugikan kebutuhan generasi mendatang. Hal ini penting bahwa pertumbuhan
ekonomi di masa mendatang dan kualitas kehidupan manusia secara keseluruhan
ditentukan oleh kualitas lingkungan hidup di masa sekarang.
2)
Kependudukan dan umber-umber Daya Alam Lonjakan jumlah penduduk di kawasan
termiskin di dunia telah mengakibatkan semakin parahnya degradasi lingkungan
hidup atau pengikian umber-umber daya alam yang jumlahnya sudah sangat
terbatas, sehingga mengakibatkan penduduk di kawasan tersebut harus menghadapi
kesulitan sekedar untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. 3) Kemiskinan dan
Lingkungan Hidup Meskipun jelas bahwa kerusakan lingkungan dan tingkat
kelahiran yang tinggi berjalan beriringan, akan tetapi bobot pengaruhnya
terhadap faktor kemiskinan absolut tidak selalu sama.
4)
Pertumbuhan Ekonomi vs Kelestarian Lingkungan Hidup Kenaikan tingkat pendapatan
dan tingkat konsumi penduduk dari lapisan kaya ataupun miskin sama sama akan
membawa konsekuensi berupa kenaikan neto kerusakan lingkungan hidup.
5)
Pembangunan Daerah Pedesaan dan Lingkungan Hidup Peningkatan input-input pokok
pertanian dan diperkenalkannya metode pertanian yang berkelanjutan akan dapat
menciptakan alternatif-alternatif pola produksi yang lebih baik daripada pola
pemanfaatan yang cenderung tidak ramah lingkungan.
6) Pembangunan Perkotaan dan Lingkungan Hidup
Emisi dari kendaraan, rumah tangga, dan industri, buruknya fentilasi rumah
tangga dapat memperparah kondisi lingkungan perkotaan yang sudah sangat
menyesakkan itu. Merosotnya produktivitas karena pekerja sakit yang
terkomtaminasi oleh sumber-sumber air tercemar, rusaknya infrasturktur, baru
sebagian kecil dari biaya sosial yang harus ditanggung masyarakat karena
buruknya lingkungan daerah perkotaan.
7)
Lingkungan Hidup Global Diperlukannya perhatian dan kerjasama Internasional
dalam penyelesaian masalah lingkungan hidup ini. Baik dari negara makmur dan
negara yang sedang berkembang. Yuca Siahaan
BAB II
PEMBAHASAN
Selama
dekade 1980-an tingkat kesuburan tanah perkapita merosot 1,9 persen per tahun.
Masalah ini pada gilirannya memperparah kelangkaan lahan subur yang kemudian
akan memaksa penduduk miskin di daerah pedesaan untuk mengandalkan hidupnya
pada lahan-lahan marjinal yang produktivitas dan kesuburannya sangat terbatas.
Sejauh ini diperkirakan bahwa lebih dari 60 persen penduduk termiskin di
berbagai negara-negara berkembang harus mempertahankan kelangsungan hidupnya
dengan mengandalkan lahan-lahan marjinal yang sulit ditanami. Kecenderungan
negatif ini juga semakin diperburuk oleh ketimpangan kepemilikan lahan sehingga
jumlah petani yang tidak memiliki lahan garapan sendiri semakin banyak. Itu
berarti semakin banyak orang yang mengandalkan hidupnya pada lahan yang ukuran
luas dan produktivitasnya semakin terbatas. Keterbatasan lahan juga mendorong
mereka untuk merambah ke lahan-lahan yang secara ekologis sangat sensitif.
Hutan-hutan yang jumlahnya semakin sedikit segera dibabat dan diolah menjadi
lahan garapan dan kebanyakan dari lahan itu mengalami pengikisan kualitas dan
kesuburan secara cepat sebagai akibat dari metode-metode pertanian yang sama
sekali tidak efisien. Setiap tahunnya, dunia kehilangan sekitar 270.000
kilometer persegi lahan subur. Secara keseluruhan, 1,2 miliar are lahan telah
kehilangan kesuburannya. Perununan produktivitas pertanian ini menghilangkan
0,5 -1,5 % GNP dunia setiap tahunnya. Konsekuensi-konsekuensi Kesehatan serta
produktivitas yang Utama atas Terjadinya Kerusakan Lingkungan Masalah
Lingkungan Polusi air dan kelangkaan air bersih Yuca Siahaan Dampak Terhadap
Kesehatan Lebih dari 2 juta orang mati dan miliaran penyakit terjadi setiap
tahunnya sebagai dari akibat tercemarnya air; kondisi kesehatan setiap keluarga
sangat buruk dan rapuh akibat dari kelangkaan air bersih Dampak Terhadap
Produktivitas Kemerosotan hasil dari budidaya perikanan; waktu para penduduk di
desa dan kota banya yang terbuang sekedar untuk mencari air; sebagian kegiatan
yang produktif terpaksa ditunda karena air bersih untuk kebutuhan sehari-hari
tidak
Ø
Polusi udara Limbah padat dan limbah
yang berbahaya Degradasi kualitas tanah Pembabatan hutan atau deforestasi
Kemerosotan biodiversitas Yuca Siahaan Aneka penyakit akut dan kronis terutama
saluran pernafasan dan paru-paru; 300.000-700.000 manusia khususnya anak-anak
meninggal secara dini per tahun; 400 juta-700 juta penduduk negara-negara Dunia
Ketiga, terutama wanita dan anak-anak megalami gangguan pernafasan karena
sistem ventilasi di rumahrumah yang sangat buruk dan sering dipenuhi oleh
kepulan asap kotor yang sangat menyesakkan Aneka penyakit akibat banjir dan
limpahan sampah; teracuninya air serta sumbersumbernya yang berskala lokal
tetapi sangat berbahaya bagi kesehatan Penyusutan kecukupan gizi kalangan
penduduk yang paling miskin oleh karena lahan mereka semaki tidak mampu
menyediakan bahanbahan pangan secara memadai; kemungkinan menjadi gurun pasir
juga semakin besar Banjir yang akan banyak merenggut harta serta jiwa manusia;
risiko penyebaran penyakit Sumber obat-obatan potensial yang sangat berharga
lenyap tersedia Penghentian aktifitas transportasi dan industri pada masa
kritis; dampak hujan asam terhadap hutan dan sumber-sumber air di bawah tanah,
yang mengikis kesuburan lahan dan segala sesuatu yang terdapat di atasnya
Pencemaran atas sumbersumber air di bawah permukaan tanah Penyusutan GNP antara
0,51,5 persen per tahun; pengikisan sumber air di bawah tanah; menyulitkan
kegiatan transportasi sungai; dan memukul investasi hidroelektrik Lenyapnya
sumber daya yang sangat berharga, bukan hanya kayu, tetapi juga produkproduk
hutan lainnya yang jenis dan nilainya tidak terhitung besarnya Penurunan
kemampuan adaptasi ekosistem dan
Ø
sumberdaya adalah dengan
mengenyahkan setiap distorsi pasar. Sejumlah model telah dikembangkan untuk
menjelaskan proses terjadinya inefisiensi dalam aloksi sumberdaya. 2. Sumber- Sumber
Daya Milik Umum Jika sebuah sumberdaya langka dimiliki oleh masyarakat secara
keseluruhan sehingga bisa dimanfaatkan oleh siapa saja, maka sebutannya adalah
sumberdaya milik umum (common property resource). Dalam hal ini tidak tersedia
laba potensial ataupun rente kelangkaan yang bisa dipungut. Namun, perlu
dikemukakan bahwa model- model neoklasik tersebut terlalu memusatkan
perhatiannya pada masalah efisiensi dan kurang memperhatikan hal- hal lain yang
sebenarnya tidak kalah penting, misalnya saja aspek pemerataan atas hasil-
hasil yang diperoleh. Distribusi pendapatan bahkan dianggap bukan merupakan
suatu hal yang relevan dalam teori tersebut. Akibatnya teori ini sebenarnya
telah membutakan mata atas terciptanya distribusu pendapatan yang sangat timpang,
dimana hampir semua rente kelangkaan dan manfaa- manfaat ekonomi hanya diterima
oleh segelintir orang yang memiliki sumberdaya. 3. Kritik- kritik Terhadap
Model Kepemilikan Umum Neoklasik Model kepemilikan umum mengasumsikan bahwa
penyerapan tenaga kerja secara penuh telah tercipta dan bahwa setiap tambahan
pekerja akan senantiasa meningkatkan total produktivitas sehingga tingkat
produktivitas marjinal mereka setidak- tidaknya sama besarnya dengan upah yang
ia terima. Namun, jika kita menyimak kenyataan perekonomian di negaranegara
masih banyak terdapat pengangguran di daerah perkotaan maupun pedesaan, maka
kita harus menolak asumsi tersebut. Jika pekerja baru datang dari sebuah
keluarga petani yang produk marjinalnya berada dibawah tingkat upah sedangkan
lapangan kerja alternatif tidak tersedia, maka produk marjinalnya memang bisa
meningkat, sehingga dengan sendirinya hal tersebut akan menaikkan produk
rata-rata tenaga kerja dan tingkat kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
Asumsi yang tidak realitis berikutnya dari model ini adalah bahwasanya pemilik
tanah cenderung memaksimalkan laba sehingga ia akan selalu berusaha mencapai
tingkat yang optimal. Pada kenyataannya, para pemilik lahan yang luas justru
seringkali tidak begitu efisien dalam menggarap lahannya karena mereka
cenderung menggunakan lahan- lahan tersebut untuk mendapatkan kekuasaan atau
prestise. Dengan demikian jelas bahwa pasar hak kepemilikan yang sempurna bukan
merupakan syarat yang penting bagi terciptanya penggunaan lahan secara efisien.
Hal yang sama juga berlaku terhadap faktor- faktor produksi Yuca Siahaan
Ø
dan perlonjakan permintaan terhadap
barang-barang manufaktur. Parah tidaknya, adalah tergantung cara pembuangannya.
Maka perlu peranan pemerintah dalam mengawasinya agar pengusaha tidak seenaknya
membuang limbah tanpa memerdulikan kesehatan penduduk sekitar. Penanggung utama
biaya kerusakan lingkungan hidup justru mereka yang sebenarnya tidak terlibat
atas tersebarnya polutan (eksternalitas). Dalam eksternalitas dikenal beberapa
istilah seperti “private cost,” “pollution tax,” “social cost.” Sampai batas
tertentu, lingkungan memiliki daya tahan atau absorptive capacity yang
memungkinkannya untuk menyerap sejumlah polutan secara aman. Yuca Siahaan
Ø
bumi bagi kelangsungan hidup manusia
kini terancam.Banyak aspek-aspek ekosistem telah rusak dan regenerasinya kini
terbatas.Terjadinya penipisan lapisan ozon (ozone depletion) dan terus
berlangsungya pemanasan global (global warming) yang mengisyaratkan bahwa iklim
global telah berada dalam bahaya. Perubahan pola penggunaan tanah di banyak
negara berkembang itu sendiri lah yang menyebabkan terjadinya efek rumah kaca
(greenhouse gases).Diperkirakan proses penggundulan hutan bertanggung jawab
atas 25 persen dari total kenaikan emisi CO2 di seluruh dunia.Penggundulan
hutan pada dasarnya merupakan pengikisan sumber oksigen terbesar di dunia.
Sebagian besar hutan hujan di dunia ini sudah terkikis.Sekitar 60 persennya
telah di babat untuk membuka lahan baru oleh para petani kecil.Setiap tahun 4,5
juta hektar gutan hanya untuk ditebang dan dibakar sementara untuk membuka
ladang baru.Sembilan puluh persen diantaranya ulahan yang tidak begitu
subur,dan hanya dimanfaatkan beberapa musim panen saja.Setelah tidak ditanami
lahan-lahan tersebut dibiarkan begitu saja hingga kemudian dipenuhi oleh
alanglang dan kemudian disewakan sekedar untuk tempat menggembalakan
ternak.Pihak pemerintah sendiri pun,kadang-kadang turut memperburuk masalah
dengan menyediakan subsidi.Jika pada akhirnya rumput ilalang pada lahan
tersebut habis,maka petani-petani tersebut akan merambah hutan lagi dan membuka
lahan baru.Sejak beberapa saat yang lalu pemerintah negara Dunia Ketiga
(negara-negara di Asia,Afrika dan Amerika Latin) telah menjalankan program
penghijauan yang sering kali ditunjang oleh bantuan finansial dari bank-bank
pembangunan internasional.Sebuah kajian yang dilakukan oleh Bank Dunia untuk
mengevaluasi program bantuannya sendiri untuk melakukan penghijauan tersebut
sangatlah mahal.Rata-rata rumah tangga peladang menghabiskan US$10.000 dan itu
pun tidak akan menjamin bahwa perilaku untuk tidak merusak lingkungan berhenti
secara permanen. Karena biaya politik dan ekonomi atas upaya pelestarian hutan
seringkali tidak nampak jelas atau bahkan ambivalen,maka upaya tersebut
kelihataannya bisa dilakukan tanpa memakan banyak biaya.Pada kenyataanya karena
peran hutan hujan tropis yang begitu penting,dalam menjalankan perekonomian
domestik negara-negara berkembang,biaya pelestarian hutan itu sebenarnya sangat
tinggi (apalagi jika diperhitungkan biaya oportunitasnya).Biaya oportunitas
yang muncul dari dari upaya pelestarian hutan hujan selain sangat besar
nilainya juga bervariasi Yuca Siahaan
BAB IV
SIMPULAN
Degradasi lingkungan hidup yang terjadi semakin parah dan
meluas, di wilayah perkotaan, pedesaan dan wilayah hutan. Beberapa indikator,
di wilayah kota, semakin kotornya air sungai, semakin meluasnya daerah kumuh
(Stum areas), tak terkendalinya penggunaan ruang kota (City Space), tercemarnya
air tanah/sumur dan semakin meningkatnya kadar CO2 di udara. Di daerah
pedesaan; semakin meluasnya penggunaan tanah negara untuk pertanian (secara
ilegal), semakin banyaknya species flora dan fauna yang hilang/punah dan
semakin meluasnya tanah miskin (semak belukar dan tanah gundul) serta bencana
longsor dan banjir.. Bila kita menggunakan segenap sumber daya alam secara
lebih efisien, kondisi lingkungan hidup akan lebih terjaga dan tentu saja
merupakan penghematan secara ekonomis. Sebenarnya dalam taraf individual banyak
yang bisa kita lakukan tanpa harus mengeluarkan biaya ekstra demi menyelamatkan
lingkungan. Namun dalam skala besar dibutuhkan sejumlah investasi pengembangan
teknologi antipolusi dan penyempurnaan manajemen sumber daya. Yuca Siahaan
DAFTAR
PUSTAKA
Todaro,Michael.2000.Pembangunan Ekonomi di
Dunia Ketiga Edisi Ketujuh.Jakarta:Erlangga Yuca Siahaan.